lampu warnawarni menawarkan sensasi melebihi warnawarna pelangi di malam hari sepasang lakiperempuan di pojok taman terbungkus beritaberita di koran ucapkan salam : “persetan kau, tu[h]an” aku sedang mencoba melupakan dengan menggoreskan darah di kanvas lukisan namun yang terjadi hanyalah letupan dari nanah di bekas luka karatan tapi, belum akan menyerah pasangan tadi tak terdengar lagi mungkin lelah berlari dalam pacuan birahi ah, alangkah bahagianya mereka yang tak terbebani dengan segala macam tafsir dan pengertian tentang norma dan etika aku lelah terlelap
malam penuh tuba dan duri kepala disesaki kerikilkerikil tak bisa berpikir alpa mengingat “ada apa dengan negeri ini?” kunangkunang berebut terang merkuri dan laron mati di ujung korek api anak kecil yang tak bisa lelap mengamati “mungkin enak menjadi kunangkunang nanti” tuba berlarian didalam otakku berkejaran dengan angan mati dan bertanya,”sampai dimana tadi?”
dalam lingkaran
kebingungan
keraguan
sepi
“apakah kau tahu apa yang harus kau lakukan?”
sampah
tikus
dimanapun
kapanpun
di rumah
di kantor
di meja
ternyata,
“kau tidak tahu apa yang kau lakukan!”
dalam lingkaran
kebosanan
keheningan
kegelapan
diam
“kau tidak tahu apa-apa!”
semua sunyi
sendiri
kondom
heroin
nirvana
“di mana kau tidur semalam, gadisku?”
frigid
senyap
lenyap
hambar
menghilang
kecoak di kepala
menghisap habis seluruh idealisme
ideologi tak logis
dan abnormal
tak nyaman
terasa sesak
kepala
nafas
ketika film diputar
menyajikan suguhan yang membuat mual
serasa ingin muntah
apalagi
dengan iringan musik yang juga menyebalkan
ah,
“ini tak pantas dipertontonkan!”
ingin keluar
tapi tak bisa
terlalu sesak
tak bisa bergerak
ruangan ini penuh dengan antusiasme penonton
yang semua ingin birahinya terlampiaskan
aduh,
aku mengutuk diriku sendiri
kenapa harus tersesat disini
di rimba ini
yang penuh dengan binatang-binatang
yang hanya tahu
bagaimana cara memuaskan nafsu sendiri
tak sabar
segera berlari
tak peduli beberapa dari mereka
mengumpat dan meludahi mukaku
yang penting
aku ingin segera keluar dari sini
dan
menghirup udara segar yang kurindukan
selama ini
layar menghampar di depan
putih
kosong
tak ada apaapa
kemudian
lampu mulai dipadamkan
film akan segera diputar
diam
pengap
pendingin udara tak berfungsi
macet
mampet
deretan namanama keluar
silih berganti di layar
orangorang sibuk dengan dirinya sendiri
coca cola
popcorn
rokok
tibatiba
“hei bung, dilarang merokok di sini!”
aku tak peduli
film mulai
aku terlanjur kesal
muak
tak sedap
entah apa yang ada di kepala mereka
aku tak peduli
dan aku lebih tak peduli lagi
ketika sekilas kulihat orang di sebelahku
sibuk memuaskan dirinya sendiri
sambil memelototi film tadi
masturbasi
ah, basi
o, inikah kasih yang kaujanjikan
kala kauperlakukan raga lemah ini
sebagai benda untuk kaupertaruhkan
o, inikah cinta yang kauberikan
kala kaubiarkan raga ditelanjangi
lalu para kurawa tertawakan
wahai, ketahuilah
apa yang pantas kuceritakan pada anakcucu nanti
jika para lelaki yang kucintai
tak lagi mampu untuk melindungi
wahai, ingatlah
akan selamanya kubiarkan gerai rambut ini
sampai darah kurawa kudapat nanti
untukku bisa bersuci!
bayibayi amnesia
dan tangan bersenjata
terlahir dari rahim suci
menyusu pada matari
lalu,
kipas angin yang berputar lambat
kenangankenangan yang berkarat
luka yang dibebat
hidup yang sekarat
melarat!
orangorang berubah robot
berlaku sama
serupa!
bayibayi berjalan perlahan
menyusuri jalan dan loronglorong sunyi
kotakota yang tak berpenghuni
infrastruktur yang tak berfungsi
lalu,
bayibayi menembakkan senjata
membabi buta
membabi buta
kotakota menjadi tak berbentuk rupa
candicandi menjadi tanah rata
dan patungnya ada di manca negara
berkalungkan label harga
dan,
pulaupulau yang diabaikan
pahlawanpahlawan yang dilupakan
negara dirobohkan!
malam-malam sepi
kulalui sendiri
tanpa dirimu
di sini.
apakah gemerisik angin
mengabarkan sunyiku,
padamu?
”we want the world and we want it”[1]
pesta terhampar
memori tertampar
racun
meracuni
teracuni
kretek
perangko bekas
filateli
cerita dengan berbagai ending
hilang
menghilang
dihilangkan
kehilangan
”biografi kehilangan”[2]
”hilang dan ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa”[3]
membunuh
terbunuh
dibunuh
bunuh diri /sendiri/
hara kiri
”did you have a good world when you died?”[4]
wajah dalam botol
para pencari minyak
para pencari beras
para pencari kerja
dan
lampu disko
ectasy
alkohol
nikotin
suara-suara penuh sesak
”o voltaire! o manusia! o omong kosong!”[5]
kemana berlari
hai, orang-orang suci
amnesia
amnesia
amnesia
akhir
berakhir
terakhir
end
mati
”when the music’s over turn out the lights”[6]
——————————————————————
[1] lirik lagu ”when the music’s over” dari the doors, album ‘’strange days”
[2] judul buku kumpulan puisi dina oktaviani
[3] teks dari ”tuhan dan hal-hal yang tak selesai” goenawan mohamad
[4] lirik lagu ”the movie” dari the doors, album ”an american prayer”
[5] teks dalam ”beyond good and evil” friedrich nietzsche
[6] lirik lagu ”when the music’s over” dari the doors, album ‘’strange days”
televisi memberitakan basi,
dan banci
cerita usang dari masa perang,
kopi tertuang
gambargambar berkelebat
mengiklankan lukisan dada,
dan paha
orangorang telanjang
sementara anakanak kecil berebut susu
birokrat-aparat sikutmenyikut
sesaat,
kita disadarkan dari impian cepat saji
dari restoranrestoran sinetron dan film
ternyata apa yang kita bayangkan,
tak selamanya ada di kenyataan
jadi jangan gagap,
jika ada yang menarik tangan,
lalu menengadahkan tangan meminta uang
setelah mengkilapkan sepatu tanpa seijin kita
juga jangan terlalu kaget,
jika ada yang mengabarkan:
“cinta telah mati, pagi ini!”



