Archive for the 'manuskrip' Category

hanya ada tuhan di sini
dan,
aku sedang bercanda dengan-nya

mimpi.dada

mimpi ini masih membius
hangus
ini adalah malam keseratus
sejak rindu kaubiarkan mengendus
dengus
tolong sampaikan salamku
kepada semua lelaki yang pernah menjelajahi tubuhmu
rakus
tandus
sampai ketika beribu kasus tak juga terusut
hingga mengabadikan kusut
seribu kenangan dan teror kembali kesini
merelokasi sajaksajak penuh luka
di dada

aku.tragedi

tuhan berdansa dan menari
serius
tirus
berputar mengelilingi api
bersama malaikat
dan bidadari
sangsi
tikus menggantung diri di langit
aku dalam api
melempar tongkat menjadi ular
menebah laut menjadi daratan
“aku temukan! aku temukan!”
potret buram masa kecil
pada sepotong senja
“kau tak lagi seperti dulu”, kata katak pada hujan
menjawabnya dengan sembarang alasan
sembarangan
pahlawan sudah disalibkan
panutan sudah ditenggelamkan
semakin mengemuka
transparan
kasat mata
nyata
tragedi ini belum berhenti
abadi

orangorang dalam kepala
hilirmudik tak tentu arah
mulut mengoceh sumpah serapah
sejenak tergagap dalam senyap
di nganga luka
di jalan,
orangorang suci melenggang tenang
merasa paling bersih dirinya
tanpa sadar ia ternyata
selalu menyimpan septictank ditubuhnya
di langit,
rajaraja berpesta pora
tergelakgelak tandaskan tuak
ditemani dayang
dan penari tak berpenutup dada
sementara,
di bumi,
wajahwajah resah menjadi pengisi berita di koran pagi!

aku.mabuk.mu

aku asyik masyuk
mabuk
kepada-mu,
ya, hanya kepada-mu
itu yang kuharapkan
tak ada lainnya
selamanya,
bahkan sesudah aku mati
aku tak ingin berpisah dengan-mu
jauh dari-mu
lepas dari-mu
biar api mengelilingi,
dan ular menelikung
aku akan selalu menyerah,
hanya kepada-mu
tak ada anggur yang lebih memabukkanku
dibanding cinta-mu

pagi; cahaya surga memancar dari timur. dedaunan merupa keemasan. kegilaan dewasa mewujud dalam wajah kanak. beria bersuka di pelataran. mari mabuk sayangku, angkat sauh dan segera berlayar seluas semesta raya.
siang; udara gerah dan membakar tubuh bawakan resah. perjalanan yang tak pernah berakhir. dalam ketidakpastian yang pasti, aku meng-ada di ke-tiada-an.
malam; adalah kita, dan segala gairah [...]

kartu lebaran

sepucuk kartu lebaran kukirimkan pada-mu
tak ada puisi atau syair yang tertulis
hanya selarik kata : maaf
pun tak tercantum namaku disampulnya
aku malu
: selalu berbuat salah pada-mu

di taman

lampu warnawarni menawarkan sensasi melebihi warnawarna pelangi di malam hari sepasang lakiperempuan di pojok taman terbungkus beritaberita di koran ucapkan salam : “persetan kau, tu[h]an” aku sedang mencoba melupakan dengan menggoreskan darah di kanvas lukisan namun yang terjadi hanyalah letupan dari nanah di bekas luka karatan tapi, belum akan menyerah pasangan tadi tak terdengar lagi [...]

malam penuh tuba dan duri kepala disesaki kerikilkerikil tak bisa berpikir alpa mengingat “ada apa dengan negeri ini?” kunangkunang berebut terang merkuri dan laron mati di ujung korek api anak kecil yang tak bisa lelap mengamati “mungkin enak menjadi kunangkunang nanti” tuba berlarian didalam otakku berkejaran dengan angan mati dan bertanya,”sampai dimana tadi?”

lingkaran

dalam lingkaran
kebingungan
keraguan
sepi
“apakah kau tahu apa yang harus kau lakukan?”
sampah
tikus
dimanapun
kapanpun
di rumah
di kantor
di meja
ternyata,
“kau tidak tahu apa yang kau lakukan!”
dalam lingkaran
kebosanan
keheningan
kegelapan
diam
“kau tidak tahu apa-apa!”
semua sunyi
sendiri
kondom
heroin
nirvana
“di mana kau tidur semalam, gadisku?”
frigid
senyap
lenyap
hambar
menghilang
kecoak di kepala
menghisap habis seluruh idealisme
ideologi tak logis
dan abnormal