momen-momen diabadikan dalam lembaran kodak atau fuji, dalam pigura emas berkaca. orang-orang dan hidupnya menjadi deretan angka yang dengan seketika berubah menjadi “apabila” dan “maka”. lalu, apakah kita hanya sekedar statistik belaka? warga negara hanyalah sebuah data yang tercetak dalam tabel berisi angka dan prosentase, dalam lembaran folio yang keluar dari mesin pengganda xerox atau canon. warga negara hanyalah sebuah asumsi ekonomi. lalu, orang-orang pintar itu sibuk berorasi, berkata membela kepentingan rakyat[nya]. rakyat, siapa? tentu, bukan kita. karena kita hanyalah deretan angka dan data bagi mereka. bukan fakta!




No Comments Yet