Archive for Juni, 2009
televisi memberitakan basi,
dan banci
cerita usang dari masa perang,
kopi tertuang
gambargambar berkelebat
mengiklankan lukisan dada,
dan paha
orangorang telanjang
sementara anakanak kecil berebut susu
birokrat-aparat sikutmenyikut
sesaat,
kita disadarkan dari impian cepat saji
dari restoranrestoran sinetron dan film
ternyata apa yang kita bayangkan,
tak selamanya ada di kenyataan
jadi jangan gagap,
jika ada yang menarik tangan,
lalu menengadahkan tangan meminta uang
setelah mengkilapkan sepatu tanpa seijin kita
juga jangan terlalu kaget,
jika ada [...]
apakah akan kuberitahukan kepadamu
kepada siapa setan-setan itu turun?
mereka turun kepada tiap-tiap pendusta
lagi pendosa
mereka hadapkan pendengaran
(kepada setan-setan itu)
dan kebanyakan mereka adalah pendusta
dan para penyair itu
diikuti orang-orang sesat
tidakkah kamu lihat
mereka mengembara di lembah-lembah
dan suka mengatakan
apa yang mereka sendiri tak kerjakan
kecuali penyair yang beriman
dan beramal saleh
yang banyak menyebut nama Allah
(Para penyair : 221-227)
momen-momen diabadikan dalam lembaran kodak atau fuji, dalam pigura emas berkaca. orang-orang dan hidupnya menjadi deretan angka yang dengan seketika berubah menjadi “apabila” dan “maka”. lalu, apakah kita hanya sekedar statistik belaka? warga negara hanyalah sebuah data yang tercetak dalam tabel berisi angka dan prosentase, dalam lembaran folio yang keluar dari mesin pengganda xerox atau [...]
insomiainitelahmembunuhku-membakarhabisgairahkuakanmu
manusiamanusiadenganstereotipeyangsemu
hilirmudikditengahabsurditaskota
mengejarmengaismeraihapapun
kesenanganhedoniskehidupanmaterialistis
cintaku
sejatiku
bukan untukmu
hanya untuknya
hawa,
ibu dari anakanakku
yang tak pernah
keluhkan harga susu
yang tak pernah bertanya:
“apa aku pantas untukmu?”
satu-satu kenangan
lalu mulai dilupakan
serupa dengan
lembar kalender yang ditanggalkan
dengan paksa
semua tercerabut dari akarnya
meninggalkan sejuta asa
dan juga peristiwa
aku, engkau, kita
terurai tak tentu rimba



