Arsip

Arsip untuk Februari, 2009

cerita tentang jim & b

Februari 25, 2009 dusone 8 komentar

Jim. “Akhirnya aku menjadi karakter dalam ceritaku sendiri!”

Cerita ini bermula dari pertemuan tanpa sengaja dengan B, adik kelasku waktu SMA, di sebuah warnet. Ia operatornya. Ia memanggilku Jim dan menganggapku sebagai adikku, yang memang teman satu angkatan dengannya. Bahkan sampai sekarang, ia masih menganggap aku sebagai adikku.

Perbincangan berlanjut dan meluas. The Doors, terutama Jim, dan Nietzsche.
Juga cerita tentang kegiatan-kegiatan yang masing-masing kami lakukan.

B. “Aku ingin membuat rumah film. Perpustakaan film-film bagus. Klasik dan mutakhir. Tak hanya popular. Aku juga akan membuat film. Tentang kamu, mungkin tentang diriku sendiri”

B adalah seorang artis. Seniman. Menulis, melukis, teater dan musik. Ia suka Warhol. Sangat. Bahkan anjingnya pun bernama Warhol.

Aku lalu diajak ke penginapannya. Kamarnya benar-benar pengap. Penuh sesak dengan bermacam barang. Tumpukan buku di sudut. Nietzsche, Miller dan Chairil. Rekaman-rekaman dari Bjork, The Velvet Underground, The Doors di atas meja. Beberapa keping film porno. Sementara di dinding menempel kliping berita tentang pameran lukisannya di sebuah galeri.

Jim. “Bagaimana pamerannya?”
B. “Ada banyak penonton di pameran. Semua lukisan rusak. Mereka menurunkannya. Terlihat bagus, hanya dinding saja”
Jim. “Oh!”

Aku mengambil Henry Miller “Sexus”, dan mulai membolak-balik halaman demi halaman. Dari belakang. B memperhatikan, sejenak, lalu bertanya.

B. “Kenapa kau lakukan itu?”
Jim. “Aku suka membacanya dari belakang!”
B. “Kebiasaan yang aneh!”

Segelas bir di udara yang dingin, dan Soft Parade-nya The Doors. Aku memejamkan mata. Sementara B, sibuk dengan urusannya sendiri.

B. “Ceritakan tentang dirimu”
Jim. “Sama seperti dirimu. Aku menulis, teater, musik”
B. “Bagaimana dengan lukisan?”
Jim. “Aku tak punya pendapat tentang lukisan. Aku benci lukisan. Itu seni yang paling tidak berguna. Seni sempurna adalah perpaduan antara fantasi dan keadaan mabuk. Apollo dan Dyonisius”1)
B. “Seks?”
Jim. “Kebutuhan seksualku bisa terselesaikan tanpa perempuan dewasa. Aku suka dengan bau keringat perempuan. Juga bulu ketiak yang tidak dicukur. Sensual. Menggairahkan. Terutama anak-anak sepulang sekolah. Begitu menggairahkan”
B. “Dasar pedofil!”
Jim. “Aku benci dengan orang yang menciptakan bermacam istilah untuk satu hal yang sama. Bagiku, seks tetaplah seks. Entah dilakukan dengan siapa dan bagaimana. Itu saja”
B. “Cinta?”
Jim. “Cinta telah mati, pagi ini. Menjadi sekumpulan huruf dan tanda baca. Tanpa spasi!”
B. “Kau memiliki seorang kekasih?”
Jim. “Seperti Byron, aku mencintai saudaraku sendiri. Apakah itu salah?”
B. “Aku tidak bisa berpendapat soal benar atau salah. Yang kutahu, itu tabu di masyarakat kita”

Lalu aku mulai bercerita tentang O.

Jim. “Namanya O. Makhluk yang manis. Sangat manis. Tidak terlalu pintar. Cerewet, senang bicara. Suka tertawa. Aku suka melihatnya ketika ia tertawa, bahunya akan bergerak-gerak. Tidak terlalu menaruh perhatian pada apapun yang berbau seni, kecuali novel. Tapi ia adalah pendengar yang baik. Ia selalu ingin mendengar cerita dariku. ’Kalau kau tidak menceritakan padaku, itu berarti kau telah menyakiti hatiku’, katanya. Sebenarnya tidak ada yang tahu hubungan antara kami berdua. Sampai pada satu hari, aku ingat hari itu ulang tahunnya. 11 maret, sama dengan terbitnya Supersemar, kau ingat? Tentu tidak! Di sini sudah terlalu banyak ritual untuk memperingati sesuatu, tetapi esensinya nihil”
B. “Lalu?”
Jim. “Di depan banyak orang ia mulai berteriak-teriak,’Kapan kita akan menjadi sepasang kekasih? Kapan kita akan menjadi sepasang kekasih?’. Berulangulang. Untuk menenangkannya, aku lalu memeluknya. Sejak itu, setiap orang mulai memandang sinis kepada kami. Untuk menghindari konflik, aku lalu menyingkir ke tempat yang jauh darinya. Ke sini. Aku selalu menulis surat untuknya. Terakhir aku tahu, ia menikah dengan seorang perwira militer dan melahirkan seorang bayi perempuan bernama Medora2). ‘Secantik matahari pagi dan sehangat sore’, katanya tentang Medora”

Segelas bir lagi. Entah yang ke berapa. Aku tak ingat lagi.

B. “Apa yang kaulakukan sekarang?”
Jim. “Menonton tv, mendengarkan rekaman jazz, membaca, menulis, memperhatikan orang-orang. Supaya bisa merencanakan buku selanjutnya”
B. “Mungkin kau bisa mengambil hikmah dari kejadian yang kau alami”
Jim. “Jangan pikir aku percaya dengan omong kosong tentang perubahan. Orang bilang pengalaman buruk membuatmu tumbuh dewasa, dan semua hal klise seperti itu”
B. “Kepribadian paranoid!”
Jim. “Itulah sudut pandangku: sedih dan bencana”
B. “Kau sakit!”
Jim. “Aku hanya sedih. Itu saja”
B. “Pesimis! Berharaplah!”
Jim. “Untuk apa harapan? Kita hidup sebentar lalu mati!”

Untuk beberapa saat, aku teringat O. Perbincangan-perbincangan.

Juga petualangan-petualangan yang kami lakukan.

O. “Apa yang membuatmu menulis?”
Jim. “Ketidakmampuanku untuk menghentikannya”
O. “Apa yang harus dilakukan untuk menjadi penyair?”
Jim. “Untuk menjadi penyair, seseorang harus jatuh cinta, atau menderita”
O. “Saat ini kau sedang jatuh cinta atau menderita?”
Jim. “Aku sudah bosan jatuh cinta, kecuali denganmu!”
O. “Beri aku sebuah puisi”
Jim. “Biar kucoba untuk merekareka. Gambar rupa wajahmu. Pun aku tak pandai beranganangan. Apalagi untuk berandaiandai. Setelah memandangmupun aku tetap tak bisa. Karena kau terlalu indah untuk direkareka”
O. “Aku suka puisimu. Selalu suka. Lagi!?”
Jim. “Ini adalah surat cintaku. Setangkai mawar dan sepasang kupu-kupu. Hanya untukmu. Dan semoga bisa mengalirkan rindumu”
O. “Terima kasih”

Aku masih tidak bisa melupakan O. Untuk apa rasa cinta diberikan jika tidak bisa dengan mutlak dipergunakan?

–o_o–

“Apakah aku laki-laki yang menulis tentang dirinya sendiri dalam sebuah cerita? Atau aku hanya satu karakter dalam cerita itu? Jika aku mati, apakah karakterku terus berlanjut? Atau dia akan memudar begitu saja? Ini bukan hal baru. Kau telah membaca cerita ini berkali-kali. Kau pernah melihat kelahiran, hidup dan kematianmu. Kau bisa mengingat semuanya. Apakah hidupmu baik saat kau meninggal? Cukup bagus untuk dijadikan sebuah cerita?”

–o_o–

18-2oo9o6
…beberapa dialog dalam cerita diatas diadaptasi dari film American Splendor, The Doors, Byron…

1) Friedrich Nietzsche(1844-1900)
2) Medora, diklaim sebagai anak dari affair Lord Byron dengan Augusta Leigh(saudara tiri Byron)

Categories: manuskrip Tag:, , , ,

opp & d

Februari 25, 2009 dusone Tinggalkan komentar
Bagian I

Maret. Setangkai mawar merah di ulangtahunnya.

Opp. Setangkai mawar merah di bulan Maret. Sangat tidak biasa.
d. Bukankah kau selalu menyukai setiap kejutan yang kuberikan padamu?
Opp. Iya. Trims

Ia terus saja memandangku. Tak berkedip. Seakan tak ingin berpisah denganku.

Opp. Apakah kau akan meninggalkanku?
d. Tak perlu khawatir akan hal itu. Selama apapun kau mau, aku akan tetap menemanimu.
Opp. Ceritakanlah sesuatu yang bisa menyenangkan hatiku.
d. Apakah kehadiranku tidak lagi bisa membuatmu senang?
Opp. Bukan itu. Aku ingin selalu mendengar suaramu. Selalu mendengar ceritamu. Kalau kau tidak menceritakan padaku, berarti kau telah menyakiti hatiku.

Aku lalu bercerita tentang kisah seorang anak yang mengalami lemah mental, kemudian menjadi ‘kelinci’ percobaan sebuah penelitian oleh seorang profesor. Anak itu lalu berubah menjadi seseorang yang sangat jenius, bahkan melebihi si profesor itu sendiri. Tapi ternyata perubahan itu tidak permanen. Kejeniusannya akan menghilang, dan secara perlahan ia akan kembali menjadi seseorang seperti sebelumnya. Dan selama proses melemahnya kejeniusan itu, ia tetap saja bersemangat untuk belajar. Membaca, menulis, dan melakukan hal-hal lain yang bisa dilakukannya. Ia berpikir, “Setidaknya aku masih bisa mempertahankan kemampuanku untuk membaca, meski aku sudah tidak lagi bisa mencerna apa maknanya”.

Opp. Apa artinya?
d. Setiap orang memiliki harapan. Sekecil apapun harapan itu.
Opp. Apa yang membuatmu begitu memperhatikan aku?
d. Aku mencintaimu.
Opp. Kenapa?
d. Tak perlu alasan untuk itu.

Ia lalu memejamkan mata. Sebentar. Wajah yang indah.

Opp. Kau ingat pertama kali kita bertemu?
d. Iya.
Opp. Kenapa kau bertingkah aneh seperti itu?
d. Kau tak akan menaruh perhatian jika aku tidak seperti itu.

Ia hanya tersenyum. Masih tetap memandangku, lalu bertanya tentang puisipuisiku.

Opp. Masih menulis?
d. Sejujurnya aku tersesat, tanpa rutinitas pekerjaanku.
Opp. Kenapa kau tak pernah menuliskan puisi untukku?
d. Haruskah aku memberimu puisi, jika kau adalah sebenarnya puisi itu?
Opp. Kau selalu menggodaku. Aku ingin mendengar puisimu.
d. Aku akan terus menulis puisi untukmu. Seperti angin selalu berhembus membisikkan bunyi sewarna suaramu. Seperti cahaya yang memberi bentuk padamu. Seperti keindahan yang memberi tentram bagiku. Tak akan berhenti. Sebab kesabaran adalah kuasaku. Dan seribu tahun sia-sia menggoda.1)
Opp. Katakan kau mencintaiku.
d. Aku mencintaimu.
Opp. Apa arti cinta buatmu?
d. Jangan tanyakan padaku apakah arti cinta itu. Karena aku tak pernah tahu. Biar kucoba untuk pahami dulu keberadaanmu dihatiku. Lalu kuterjemahkan besarnya rinduku. Agar tak lagi tersesat aku. 2)
Opp. Apakah aku tampak cantik?
d. (Tersenyum). Sangat.
Opp. Temani aku malam ini. Aku takut bila seorang diri.
d. Aku berjanji.

Bagian II
d. Aku selalu bingung dengan apa yang aku pikirkan dan rasakan ketika ‘perasaan’ itu datang. Aku berada di persimpangan. Apakah aku harus menerima itu sebagai ‘gift-hadiah-anugerah-pemberian’, yang harus kuterima secara mentah-mentah dan sepenuhnya? Ataukah aku harus menganggap itu, sebagai suatu ‘gift’ yang didalamnya juga terdapat suatu ujian untukku? Mungkin benar, sesuatu yang terburu-buru dan menggebu-gebu akan demikian cepat pula hilangnya. Lalu harus bagaimana aku jika ‘perasaan’ itu kembali datang menemuiku? Apakah aku harus pura-pura tidak tahu? Apakah aku harus menerima dan merasakannya? Atau aku masih harus memikirkannya lebih dulu? Entah.

+end+
rbg,22o9o6,o8:12.38am
1) Bagus Takwin, “Bermain-main Dengan Cinta”
2) Puisi no “[o16]” dalam rumahmattahari, 2003

catatan perjalanan

Februari 22, 2009 dusone Tinggalkan komentar

[digereja]
Mobil-mobil mewah berjajar rapi di halaman gereja, satu-satunya tempat ibadah yang kutemui disini. Misa sore ini penuh sesak dengan para jemaat. Ayah-ibu beserta anak-anaknya, kekasih-kekasih dan orang-orang lainnya. Aku duduk di barisan kursi paling belakang. Ujung sebelah kiri.

Khutbah dimulai, aku mulai mengantuk dan tertidur. Seperti ketika aku mengikuti acara-acara sejenis di masjid, pura atau vihara. Ritual yang sama, nama yang berbeda.

Aku tidak mendengar apa-apa, aku tidak tahu apa-apa. Terakhir yang sempat kuingat sebelum aku terlelap, hanya kata-kata si pengkhutbah, yaitu “dia datang membawa kabar keselamatan”. Lalu aku berpikir, “dia siapa?”.

[ditengahkota]
Berjalan di jam-jam sibuk, antara jam tujuh dan delapan. Pengunjung tampak ramai memadati pusat perbelanjaan, café, resto, juga taman. Masuk ke café, aku merasa seperti dilemparkan kembali ke masa-masa lampau. Waktu yang membeku. Memori yang bisu.

Keriput dilangit-langit café ini menyiratkan begitu lama kau dan aku menapaki perjalanan ini. Begitu juga dengan rekahan yang tampak di dindingnya. Akankah mengisyaratkan akhir dari cerita ini?

Aku berlama-lama tenggelam dalam keharuman kopi, sambil terus berusaha mengulang kembali memori tentangmu. Tapi, tak pernah bisa. Ada tabir yang menyelimuti. Seperti potret muram dalam pigura berdebu, di sudut café ini.

Dini hari, belum subuh. Udara masih menyisakan malam. Di jalan, tampak genangan air di beberapa tempat, bekas hujan. Jalan masih sepi, toko-toko masih belum bangun berdiri, dan suami-suami masih sembunyi di pangkal paha istri-istri mereka atau kekasih yang lain.

Kota ini masih sama seperti beberapa waktu yang lalu. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur eropa peninggalan belanda, masih tegak berdiri. Hanya fungsinya saja yang berubah. Bangunan-bangunan itu dulu digunakan sebagai kantor negara, tapi sekarang sudah banyak yang berubah menjadi hotel dan swalayan.

Air mancur di taman kota tampak berkilau keemasan, tertimpa sinar bulan. Dulu, aku pernah berpelukan dan berciuman dengan kekasihku di taman ini. Entah, dimana berada ia sekarang.

Dibawah lampu di depan bangunan bekas kantor pos yang sekarang sudah menjadi swalayan, sepasang gelandangan tertidur beralas berita-berita di koran, sambil berpelukan. Berselimutkan embun dan cahaya bulan. Ah, alangkah bahagianya mereka, yang tak terbebani dengan segala macam tafsir dan pengertian. Tentang norma dan etika. Tentang apa saja.

Diseberang jalan, tepat di depan bangunan bekas kantor pos itu, berdiri tegak gedung setinggi 15 lantai dengan dinding berwarna kuning yang tampak mencolok dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang lain. I’Hotel, namanya. Dimana pada tanggal 12 Agustus, 19 tahun lalu, Jean-Michel Basquiat ditemukan tewas setelah mengkonsumsi heroin hingga overdosis.

Sebuah mobil lewat. Pelan-pelan. Seperti kenangan yang akan segera menghilang. Perlahan-lahan.

[distasiun]
“Semir bang?”
“Tidak usah. Duduk saja disini, kita ngobrol”.

Kami duduk di bangku depan stasiun, sementara orang-orang yang hendak bepergian sibuk berlalu lalang. Antrean masih panjang di depan loket. Dan calocalo yang menawarkan tiket dengan harga dua kali lipat lebih mahal.

“Kamu tidak sekolah, kenapa?”
“Untuk apa sekolah? Hanya akan menyusahkan ibu dan ayah. Saya ingin membantu ibu dan ayah”.

Ah, anak sekecil ini harus membanting tulang mencari uang. Bagaimana dengan “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar yang seharusnya dipelihara oleh negara?”, pikirku.

Aku ingat sahabatku. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sukses. Oleh kedua orangtuanya, ia diharapkan untuk menjadi orang yang sukses pula. Karena merasa tertekan, ia memasrahkan hidupnya dengan menggantung lehernya, dan secarik kertas berisi pesan kepada orangtuanya, “Pa, Ma, Aku tidak bisa memenuhi keinginan Papa dan Mama. Lebih baik aku mati atau bunuh diri”.

Sahabatku bunuh diri. Dan ia masih kelas tiga sekolah dasar. Waktu itu.

Bocah penyemir sepatu tadi sudah sibuk menyemir sepatu seorang bapak di bangku sebelah. Dengan wajah berseri menanti keping rupiah pertamanya, ini hari.

Kugendong ranselku, beranjak untuk segera melanjutkan perjalanan. Kereta akan segera berangkat.

[dikereta]
Aku melihat wajah-wajah asing. Tak ada yang kukenal, tak ada yang mengenalku. Mereka sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang membaca koran atau majalah, ada yang tertidur, atau bahkan tak melakukan apa-apa. Aku, meski aku yakin bahwa kita tak sendiri, tapi aku tetap merasa tak mempunyai teman seperjalanan.

Kereta melaju, kencang. Serasa melepas semua hasrat dan keinginan. Wajahwajah terdiam. Membeku dan pasi. Mencoba untuk menikmati perjalanan ini. Segala kasta dan rahasia menumpuk disini. Entah, akan kemana kereta ini membawa. Tak ada yang peduli. Semua masih terdiam, berkeringat, pengap.

Kereta masih melaju. Tak peduli awan mendung menggantung, diujung perjalanan.

[tujuanakhir]
Kemana kita akan pergi? Ke rumah kosong tak berisi. Kemana kita akan menuju? Yang tersisa hanya tubuh lebam biru.

Matahari meninggi, berangkat pergi. Tapi, gelisah ini masih tetap tertinggal disini. Abadi.

di café

Februari 19, 2009 dusone 5 komentar

keriput dilelangit café ini menyiratkan, begitu lama kau aku menapaki perjalanan ini. begitu juga dengan rekahan yang tampak didindingnya. akankah mengisyaratkan akhir dari cerita ini? aku masih sering berlama tenggelam dalam keharuman kopi, sambil terus berusaha mengulang kembali memori tentangmu. tapi tak pernah bisa. ada tabir yang menyelimuti. seperti potret muram dalam pigura berdebu, di sudut café ini

Categories: neurosis, oppie Tag:, , , , ,

d

Februari 18, 2009 dusone 10 komentar

Aku dinamakan “d”, entah apa arti dan maksudnya, aku tak pernah tahu. Siapa orang tua kandungku, aku tak pernah tahu. Dari cerita orang-orang yang kudengar, aku adalah bayi yang ditemukan tergeletak di depan pintu pagar, rumah yang sekarang kutinggali, pada suatu subuh beberapa tahun yang lalu. Dan menurut mereka, aku mungkin adalah anak hasil dari hubungan gelap, yang tak pernah dikehendaki kelahirannya, dan akhirnya di buang begitu saja.

Siapa pun aku, siapa pun orang tua kandungku, bagaimana keadaan ketika aku dilahirkan, aku tak peduli. Dan sekali lagi, aku tak pernah peduli itu.

^^

Ini adalah malam ke seratus, sejak aku menjelajahi ribuan situs untuk memuaskan kesenanganku, menghabiskan waktu. Pusing-pening mulai datang. Migraine. Kepala serasa mau meledak, dan aku menyesal tidak memasang scanner di kepalaku agar aku bisa tahu berapa banyak virus dan cacing yang berdiam dan tinggal di otakku. Dan berpesta pora di sana sehingga membuat otakku menjadi semakin bebal jika digunakan untuk memikirkan sesuatu.

Di layar, masih terpampang gambar Adolf Hitler menghisap cerutu sambil memandangi ribuan mayat bergelimpangan di ujung sepatu hitamnya. Aku demikian tergila-gila dengannya. Entah apa yang menyebabkannya, aku sendiri tak pernah tahu. Aku sering berpose sepertinya, dengan posisi tangan melambai, aku bisa merasakan ekstase yang luar biasa melebihi apa yang pernah kurasakan ketika pertama kali melakukan masturbasi pada saat aku masih kelas 5 SD. Ah,…

Aku mengantuk, tapi mata ini tetap tak mau terpejam. Kupaksa untuk memejamkan mata, tetap tak bisa. Aku terbaring di ranjang, dan menatap dinding kamar yang penuh dengan poster orang-orang yang begitu aku agungkan (Ozzy, Hitler dan Jim Morrison), dan membuatku selalu ingin menjadi seperti mereka. Abadi.

Jantung sudah berhenti berdetak, bahkan paru-paruku pun sudah lama tak berfungsi lagi, sejak Marlboro mengirimkan ribuan miligram nicotine ke sana. Sering aku terbatuk dan mengeluarkan dahak bercampur darah yang berwarna hitam, tapi kebiasaan ini tak bisa kutinggalkan. Sama seperti ketika aku tidak bisa meninggalkan kebiasaanku yang lain, memotret bugil perempuan-perempuan yang mau di bayar hanya dengan sebutir ectasy (dengan kamera hitam putih favoritku), minum kopi pahit dengan iringan musik rock (dengan volume kencang), juga masturbasi sambil menonton film-film porno bajakan yang kubeli dengan harga 15 ribuan perkeping.

Di sudut, masih mengalun sayup-sayup suara Ozzy membawakan “Dreamer” dari tape deck butut, yang kubeli dari pasar loak setahun yang lalu. Kadang aku mengandaikan diriku sebagai “aku” seperti yang terdapat dalam lirik lagu tersebut, dan aku merasa benar-benar ada di dalam lagu itu. Ya, sepertinya aku adalah seorang pemimpi.

“Aku bermimpi Friedrich Nietzsche membisikiku bahwa semua laki-laki itu jahat!”, kata Frances Bean padaku.
“Aku tidak melihat ada keindahan sedikit pun pada tubuh seorang laki-laki. Tak ada yang menarik!”

Aku hanya terdiam mendengarnya bicara, aku masih sibuk mengedit dan memanipulasi foto-foto bugil dari perempuan yang baru saja kupotret tadi pagi.

“Laki-laki adalah binatang. Mereka sering memperlakukan perempuan hanya sebagai obyek saja, setelah keinginannya terlampiaskan, dengan mudah dia akan mencampakkan begitu saja seperti sampah yang tak berguna”.

Bean masih terus berkata-kata, menyumpah serapahi laki-laki. Aku tak dapat mengingat semua kata-katanya, karena aku tak pernah memikirkannya. Itu adalah masalahnya, dan aku tak ingin terlibat dengan masalah itu.

“Aku benci semua laki-laki, termasuk semua laki-laki yang pernah meniduri aku”, lanjutnya lagi.
“Berarti kamu benci padaku, karena aku pernah tidur denganmu?”, sahutku kemudian, sambil tersenyum kecil.

Bean terdiam. Aku terdiam. Dan kami berdua terdiam, tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Bean berbaring di ranjang, melamun, dan aku melanjutkan kegiatanku tadi yang sempat terhenti.

Sementara itu, detak jarum jam di dinding kamar sibuk mengabadikan kebekuan ini.

Aku mencoba mengaduk-aduk memori otakku yang kurasa sudah penuh dan semakin lambat saja memikirkan sesuatu. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah kulakukan dan alami ketika aku kecil dulu.

Aku ingat sering menonton film-film monocolor, hitam putih. Aku ingat sering menonton Janur Kuning, Pengkhianatan G30S/PKI, film-film dokumenter tentang keadaan negeri ini di masa perang kemerdekaan, juga film-film bisu Charlie Chaplin. Mungkin inilah yang membuatku membenci warna-warna selain hitam dan putih. Dan mungkin ini jugalah yang membuat mimpi-mimpiku selalu hitam putih, tak pernah berwarna. Tapi, aku tak pernah ingat sejak kapan aku mengalami hal ini.

Aku ingat ketika aku sedang mengintip seorang perempuan yang sedang mandi di kamar mandi berdinding dari bambu, di belakang rumah. Aku sangat menikmati saat-saat itu. Dan sejak saat itulah aku mulai senang melihat tubuh telanjang perempuan, tak peduli berapa pun usia mereka.

Tumpukan album yang berisi foto-foto hitam putih masa kecilku masih tergeletak di sudut (di bawah gantungan baju dan celana yang entah sudah berapa hari tak pernah di cuci), berdebu, bahkan ada beberapa bagian dari foto-foto itu yang lengket, berjamur dan mengelupas rusak. Kubolak-balik halaman demi halaman album itu sambil mencoba mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan yang ada di balik foto-foto itu. Ingatanku melayang jauh, menembus waktu, kembali ke masa-masa silam dulu.

Tapi, aku tak dapat mengingat apa pun. Memoriku sudah usang dan mungkin sudah terlalu berat untuk bekerja lagi. Aku menyerah!

“Where did you sleep last night?”, kataku pada Bean, beberapa saat setelah dia masuk ke kamar.
“Di mana-mana”, jawabnya sekenanya.
“Kau percaya pada Tuhan? Takdir? Dan kau juga percaya pada aturan-aturan itu?”.
“Tidak! Dan aku juga tidak percaya pada semua aturan-aturan itu. Bagiku semua itu bohong, palsu, bahkan tak ada seorang pun yang bisa menunjukkan padaku dimana keberadaan Tuhan yang sebenarnya!”

Bean hanya terdiam mendengar jawaban dariku. Aku juga terdiam. Kami memang seringkali saling berdiam diri, menikmati kesendirian masing-masing tanpa pernah merasa saling mengganggu atau terganggu dengan keadaan ini. Hal ini lah yang membuat aku dekat dengannya, kami tak pernah berusaha untuk ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing.

Bean beranjak menuju sudut di mana tape bututku berada, dan menyetel “The End”nya The Doors dengan volume kencang. Aku hanya meliriknya sekilas, dan tak peduli apa pun yang dilakukannya.

^^

Aku adalah seorang Hitler yang sangat bangga dan merasa bahwa bangsaku adalah yang terbesar dan paling agung dibanding bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini. Aku belum mati (jika kau anggap aku sudah mati, kau salah besar!), karena tak ada yang bisa membunuhku. Tak ingatkah kau, aku tidur denganmu semalam!

Aku adalah “C” yang menembak mati Lennon. Jika kalian bertanya kenapa aku membunuhnya, aku akan menjawabnya,”Aku membunuhnya karena aku membenci lirik-lirik lagunya, aku membunuhnya karena Lennon lebih terkenal daripada Ozzy”. (Kenapa orang-orang selalu saja menganggap Lennon lebih besar dari Ozzy?).

Aku juga adalah kecoak raksasa yang tak dikehendaki hidup oleh keluargaku, dan oleh karenanya aku disingkirkan untuk dibunuh secara perlahan-lahan, dengan arsenik yang diberikan sedikit demi sedikit melalui makanan yang disuguhkan padaku tiap hari.

Aku dinamakan “d”. Aku tidak lebih berarti daripada huruf-huruf lainnya. Dan sekali lagi, aku tidak pernah peduli itu.[]

Semarang, 22o3o5 o9:4o.oo am 2oo5

Categories: manuskrip Tag:, ,

suwung

Februari 11, 2009 dusone 16 komentar

……

tak ada ada

……

Categories: neurosis, obsesiopini Tag:, ,

meja kecil

Februari 10, 2009 dusone 4 komentar

meja kecil disudut kamar membisu
masih tersisa
coretancoretan dipermukaannya
tentangmu
tentang kita
juga masih ada
sketsa wajahmu
disudutnya

Categories: neurosis Tag:,

rindu

Februari 10, 2009 dusone 2 komentar

aku merindukan rambutmu
ikalnya, gerainya, ujungnya, baunya,
semuanya
ijinkan aku untuk memandangnya
dan membelainya
walau sebentar saja
aku takut tak akan pernah bisa
merindukannya lagi,
jika nanti

Categories: neurosis, oppie Tag:, ,

perempuan yang menanti

Februari 10, 2009 dusone 2 komentar

perempuan itu selalu ada disana
sendiri saja
berteman senja
yang mulai menua
menatap buih ombak diseberang jendela
‘adakah kapal yang berlabuh di dermaga?’
perempuan itu masih menanti
terasing dalam melankolia sepi

Categories: neurosis Tag:, ,

sepotong cerita pendek tentang kartu pos

Februari 10, 2009 dusone 4 komentar

perempuan itu selalu mengirimkan sebuah kartu pos bergambar semangka melalui kantor pos setiap hari, kepada seseorang yang sangat ia benci, dirinya sendiri!

Categories: manuskrip, neurosis Tag:,