cerita tentang jim & b
Jim. “Akhirnya aku menjadi karakter dalam ceritaku sendiri!”
Cerita ini bermula dari pertemuan tanpa sengaja dengan B, adik kelasku waktu SMA, di sebuah warnet. Ia operatornya. Ia memanggilku Jim dan menganggapku sebagai adikku, yang memang teman satu angkatan dengannya. Bahkan sampai sekarang, ia masih menganggap aku sebagai adikku.
Perbincangan berlanjut dan meluas. The Doors, terutama Jim, dan Nietzsche.
Juga cerita tentang kegiatan-kegiatan yang masing-masing kami lakukan.
B. “Aku ingin membuat rumah film. Perpustakaan film-film bagus. Klasik dan mutakhir. Tak hanya popular. Aku juga akan membuat film. Tentang kamu, mungkin tentang diriku sendiri”
B adalah seorang artis. Seniman. Menulis, melukis, teater dan musik. Ia suka Warhol. Sangat. Bahkan anjingnya pun bernama Warhol.
Aku lalu diajak ke penginapannya. Kamarnya benar-benar pengap. Penuh sesak dengan bermacam barang. Tumpukan buku di sudut. Nietzsche, Miller dan Chairil. Rekaman-rekaman dari Bjork, The Velvet Underground, The Doors di atas meja. Beberapa keping film porno. Sementara di dinding menempel kliping berita tentang pameran lukisannya di sebuah galeri.
Jim. “Bagaimana pamerannya?”
B. “Ada banyak penonton di pameran. Semua lukisan rusak. Mereka menurunkannya. Terlihat bagus, hanya dinding saja”
Jim. “Oh!”
Aku mengambil Henry Miller “Sexus”, dan mulai membolak-balik halaman demi halaman. Dari belakang. B memperhatikan, sejenak, lalu bertanya.
B. “Kenapa kau lakukan itu?”
Jim. “Aku suka membacanya dari belakang!”
B. “Kebiasaan yang aneh!”
Segelas bir di udara yang dingin, dan Soft Parade-nya The Doors. Aku memejamkan mata. Sementara B, sibuk dengan urusannya sendiri.
B. “Ceritakan tentang dirimu”
Jim. “Sama seperti dirimu. Aku menulis, teater, musik”
B. “Bagaimana dengan lukisan?”
Jim. “Aku tak punya pendapat tentang lukisan. Aku benci lukisan. Itu seni yang paling tidak berguna. Seni sempurna adalah perpaduan antara fantasi dan keadaan mabuk. Apollo dan Dyonisius”1)
B. “Seks?”
Jim. “Kebutuhan seksualku bisa terselesaikan tanpa perempuan dewasa. Aku suka dengan bau keringat perempuan. Juga bulu ketiak yang tidak dicukur. Sensual. Menggairahkan. Terutama anak-anak sepulang sekolah. Begitu menggairahkan”
B. “Dasar pedofil!”
Jim. “Aku benci dengan orang yang menciptakan bermacam istilah untuk satu hal yang sama. Bagiku, seks tetaplah seks. Entah dilakukan dengan siapa dan bagaimana. Itu saja”
B. “Cinta?”
Jim. “Cinta telah mati, pagi ini. Menjadi sekumpulan huruf dan tanda baca. Tanpa spasi!”
B. “Kau memiliki seorang kekasih?”
Jim. “Seperti Byron, aku mencintai saudaraku sendiri. Apakah itu salah?”
B. “Aku tidak bisa berpendapat soal benar atau salah. Yang kutahu, itu tabu di masyarakat kita”
Lalu aku mulai bercerita tentang O.
Jim. “Namanya O. Makhluk yang manis. Sangat manis. Tidak terlalu pintar. Cerewet, senang bicara. Suka tertawa. Aku suka melihatnya ketika ia tertawa, bahunya akan bergerak-gerak. Tidak terlalu menaruh perhatian pada apapun yang berbau seni, kecuali novel. Tapi ia adalah pendengar yang baik. Ia selalu ingin mendengar cerita dariku. ’Kalau kau tidak menceritakan padaku, itu berarti kau telah menyakiti hatiku’, katanya. Sebenarnya tidak ada yang tahu hubungan antara kami berdua. Sampai pada satu hari, aku ingat hari itu ulang tahunnya. 11 maret, sama dengan terbitnya Supersemar, kau ingat? Tentu tidak! Di sini sudah terlalu banyak ritual untuk memperingati sesuatu, tetapi esensinya nihil”
B. “Lalu?”
Jim. “Di depan banyak orang ia mulai berteriak-teriak,’Kapan kita akan menjadi sepasang kekasih? Kapan kita akan menjadi sepasang kekasih?’. Berulangulang. Untuk menenangkannya, aku lalu memeluknya. Sejak itu, setiap orang mulai memandang sinis kepada kami. Untuk menghindari konflik, aku lalu menyingkir ke tempat yang jauh darinya. Ke sini. Aku selalu menulis surat untuknya. Terakhir aku tahu, ia menikah dengan seorang perwira militer dan melahirkan seorang bayi perempuan bernama Medora2). ‘Secantik matahari pagi dan sehangat sore’, katanya tentang Medora”
Segelas bir lagi. Entah yang ke berapa. Aku tak ingat lagi.
B. “Apa yang kaulakukan sekarang?”
Jim. “Menonton tv, mendengarkan rekaman jazz, membaca, menulis, memperhatikan orang-orang. Supaya bisa merencanakan buku selanjutnya”
B. “Mungkin kau bisa mengambil hikmah dari kejadian yang kau alami”
Jim. “Jangan pikir aku percaya dengan omong kosong tentang perubahan. Orang bilang pengalaman buruk membuatmu tumbuh dewasa, dan semua hal klise seperti itu”
B. “Kepribadian paranoid!”
Jim. “Itulah sudut pandangku: sedih dan bencana”
B. “Kau sakit!”
Jim. “Aku hanya sedih. Itu saja”
B. “Pesimis! Berharaplah!”
Jim. “Untuk apa harapan? Kita hidup sebentar lalu mati!”
Untuk beberapa saat, aku teringat O. Perbincangan-perbincangan.
O. “Apa yang membuatmu menulis?”
Jim. “Ketidakmampuanku untuk menghentikannya”
O. “Apa yang harus dilakukan untuk menjadi penyair?”
Jim. “Untuk menjadi penyair, seseorang harus jatuh cinta, atau menderita”
O. “Saat ini kau sedang jatuh cinta atau menderita?”
Jim. “Aku sudah bosan jatuh cinta, kecuali denganmu!”
O. “Beri aku sebuah puisi”
Jim. “Biar kucoba untuk merekareka. Gambar rupa wajahmu. Pun aku tak pandai beranganangan. Apalagi untuk berandaiandai. Setelah memandangmupun aku tetap tak bisa. Karena kau terlalu indah untuk direkareka”
O. “Aku suka puisimu. Selalu suka. Lagi!?”
Jim. “Ini adalah surat cintaku. Setangkai mawar dan sepasang kupu-kupu. Hanya untukmu. Dan semoga bisa mengalirkan rindumu”
O. “Terima kasih”
Aku masih tidak bisa melupakan O. Untuk apa rasa cinta diberikan jika tidak bisa dengan mutlak dipergunakan?
–o_o–
“Apakah aku laki-laki yang menulis tentang dirinya sendiri dalam sebuah cerita? Atau aku hanya satu karakter dalam cerita itu? Jika aku mati, apakah karakterku terus berlanjut? Atau dia akan memudar begitu saja? Ini bukan hal baru. Kau telah membaca cerita ini berkali-kali. Kau pernah melihat kelahiran, hidup dan kematianmu. Kau bisa mengingat semuanya. Apakah hidupmu baik saat kau meninggal? Cukup bagus untuk dijadikan sebuah cerita?”
–o_o–
18-2oo9o6
…beberapa dialog dalam cerita diatas diadaptasi dari film American Splendor, The Doors, Byron…
1) Friedrich Nietzsche(1844-1900)
2) Medora, diklaim sebagai anak dari affair Lord Byron dengan Augusta Leigh(saudara tiri Byron)



s/i/a/p/a/b/i/l/a/n/g