Archive for Februari, 2009

cerita tentang jim & b

Jim. “Akhirnya aku menjadi karakter dalam ceritaku sendiri!”
Cerita ini bermula dari pertemuan tanpa sengaja dengan B, adik kelasku waktu SMA, di sebuah warnet. Ia operatornya. Ia memanggilku Jim dan menganggapku sebagai adikku, yang memang teman satu angkatan dengannya. Bahkan sampai sekarang, ia masih menganggap aku sebagai adikku.
Perbincangan berlanjut dan meluas. The Doors, terutama Jim, [...]

opp & d

Bagian I
Maret. Setangkai mawar merah di ulangtahunnya.
Opp. Setangkai mawar merah di bulan Maret. Sangat tidak biasa.
d. Bukankah kau selalu menyukai setiap kejutan yang kuberikan padamu?
Opp. Iya. Trims
Ia terus saja memandangku. Tak berkedip. Seakan tak ingin berpisah denganku.
Opp. Apakah kau akan meninggalkanku?
d. Tak perlu khawatir akan hal itu. Selama apapun kau mau, aku akan tetap menemanimu.
Opp. [...]

[digereja]
Mobil-mobil mewah berjajar rapi di halaman gereja, satu-satunya tempat ibadah yang kutemui disini. Misa sore ini penuh sesak dengan para jemaat. Ayah-ibu beserta anak-anaknya, kekasih-kekasih dan orang-orang lainnya. Aku duduk di barisan kursi paling belakang. Ujung sebelah kiri.
Khutbah dimulai, aku mulai mengantuk dan tertidur. Seperti ketika aku mengikuti acara-acara sejenis di masjid, pura atau vihara. [...]

di café

keriput dilelangit café ini menyiratkan, begitu lama kau aku menapaki perjalanan ini. begitu juga dengan rekahan yang tampak didindingnya. akankah mengisyaratkan akhir dari cerita ini? aku masih sering berlama tenggelam dalam keharuman kopi, sambil terus berusaha mengulang kembali memori tentangmu. tapi tak pernah bisa. ada tabir yang menyelimuti. seperti potret muram dalam pigura berdebu, di [...]

d

Aku dinamakan “d”, entah apa arti dan maksudnya, aku tak pernah tahu. Siapa orang tua kandungku, aku tak pernah tahu. Dari cerita orang-orang yang kudengar, aku adalah bayi yang ditemukan tergeletak di depan pintu pagar, rumah yang sekarang kutinggali, pada suatu subuh beberapa tahun yang lalu. Dan menurut mereka, aku mungkin adalah anak hasil dari [...]

suwung

……
tak ada ada
……

meja kecil

meja kecil disudut kamar membisu
masih tersisa
coretancoretan dipermukaannya
tentangmu
tentang kita
juga masih ada
sketsa wajahmu
disudutnya

rindu

aku merindukan rambutmu
ikalnya, gerainya, ujungnya, baunya,
semuanya
ijinkan aku untuk memandangnya
dan membelainya
walau sebentar saja
aku takut tak akan pernah bisa
merindukannya lagi,
jika nanti

perempuan yang menanti

perempuan itu selalu ada disana
sendiri saja
berteman senja
yang mulai menua
menatap buih ombak diseberang jendela
‘adakah kapal yang berlabuh di dermaga?’
perempuan itu masih menanti
terasing dalam melankolia sepi

perempuan itu selalu mengirimkan sebuah kartu pos bergambar semangka melalui kantor pos setiap hari, kepada seseorang yang sangat ia benci, dirinya sendiri!