bertarung dalam kesepian
Dilahirkan tanggal 15 Oktober di Rocken, dekat Leipzig, sama dengan hari kelahiran Raja Prusia, aku diberi nama yang sama pula dengannya oleh kedua orangtuaku, Friedrich.
Sejak kecil, aku sering merasakan sakit kepala yang cukup parah. Yang paling sering menyerang adalah migrain. Jika serangan itu datang, aku tidak bisa makan atau melakukan aktivitas yang lain. Hanya berbaring saja di ranjang, di kamar yang gelap, selama berhari-hari.
Selain itu, aku juga terkena satu penyakit yang bagi kebanyakan orang akan merasa malu untuk mengakuinya, sipilis. Ini kuderita –mungkin- karena kebiasaan yang sampai sekarang masih tidak bisa kuhindari, yaitu jajan di lokalisasi.
Atas anjuran dokter, untuk mengurangi serangan penyakitku ini aku disarankan untuk lebih banyak beristirahat dan mukim di lingkungan yang lebih sejuk. Memang, tempat yang sekarang kutinggali ini semakin lama semakin terasa sesak dan pengap. Selain karena semakin padatnya jumlah orang-orang yang tinggal, juga karena polusi yang tidak bisa lagi tertanggulangi.
Sejak itu aku lalu sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Hanya dengan beberapa potong pakaian, vitamin dan obat-obatan, serta beberapa buah buku Schopenhauer. (Asal kalian tahu, aku membaca Schopenhauer bukan karena aku suka dengannya. Tapi karena aku muak! Dengan membaca bukunya, aku berharap akan dapat menemukan kelemahan untuk membantah semua teorinya.).
Pada waktu-waktu itu, aku merasa seperti orang yang tidak bertuhan, tidak bernegara, tidak berumah, dan tentunya juga tidak berkeluarga.
Di Basel, aku bertemu dan menjadi akrab dengan seseorang bernama Ree, seorang atheis dan pesimis. Kami saling bertukar pikiran dan pendapat tentang berbagai hal. Namun, yang paling seru adalah ketika berbincang-bincang tentang Schopenhauer atau Wagner.
Beberapa lama kemudian, Ree mengenalkanku pada salah seorang teman wanitanya. Namanya Lou. Berusia sekitar 21-an.
Awalnya hubungan kami bertiga terjalin biasa-biasa saja, hingga tak terasa jika ternyata tanpa sadar telah terjalin suatu hubungan menage-a-trois platonis.
Tanpa setahu Ree, aku melamar Lou. Dua kali. Dan sebanyak itulah Lou menolaknya.
Semakin lama, Ree dan Lou semakin menjauh dariku. Hubungan kami sudah mulai renggang. Hingga akhirnya, mereka berdua benar-benar pergi. Menghilang. Meninggalkanku.
Kembali aku sendiri. Terpencil. Semakin terkucil. Untuk melupakan mereka dan serangan penyakitku, aku lalu kembali berpindah-pindah tempat, menulis dan membaca buku, serta menikmati permainan piano Wagner.
Karena kebiasaanku yang “apabila sedang fokus pada satu hal aku bisa lupa untuk beristirahat”, beberapa kali aku mendapat serangan. Lalu kuputuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, sempat beberapa kali serangan kembali datang. Oleh Beth, saudara perempuanku, aku diperiksakan ke dokter. Karena kondisiku yang sudah demikian parah, aku hanya bisa pasrah ketika menerima vonis dokter bahwa “penyakitku sudah tidak bisa disembuhkan dan diprediksi pula bahwa aku akan mengalami kemunduran mental”.
^–^
Kalian mungkin akan menganggapku sebagai “orang gila”, “tidak waras”, “sakit jiwa” dan sebagainya, karena pernyataan yang pernah kuutarakan bahwa “tuhan telah mati!”.
Kalian tidak akan pernah bisa memahami maksud dari pernyataanku, sebab masing-masing dari kalian telah “meletakkan tuhan dalam lemari besi pikiran kalian” serta “menempatkannya di tempat yang tidak mungkin terjamah”. Dengan kata lain, kalian telah “memonumenkan tuhan kalian sendiri!”.
Mungkin memang tidak wajar bila orang yang akan mati memilih untuk menuliskan biografinya sendiri. Tapi ini terpaksa harus kulakukan, karena tidak ada seorangpun diantara kalian yang benar-benar bisa memahami seperti apa diriku sebenarnya. Terserah apa pendapat kalian. Amor fati! Cintailah nasibmu! Selamat tinggal!
Rbg20.08.2006-07:16:55am
Menage-a-trois : cinta segitiga



info yang cukup menarik, tapi saya rasa alangkah lebih baiknya kalau dijelaskan lebih detail lagi tentang siapa Nietzsche. bisa dari sejarah kehidupannya, atau tentang buku-buku yang pernah ia tulis. khususnya tentang pernyataan dia bahwa “Tuhan telah mati”…thx..
makasi mbak untuk kunjungan dan komennya,,diatas adalah tafsir saya pribadi atas salah satu babak dalam hidup Nietzsche..terima kasih juga untuk masukannya..salam..