aku tahu aku akan mati hari ini
“Is everybody in?
The ceremony is about to begin.”1)
Mengapa aku sendirian di dunia ini? Kemana perginya orang-orang yang menghadirkanku ke dunia ini? Orang-orang yang tidak bertanggung jawab! Mengapa aku harus menghadapi semua pertanyaan ini sendirian? Dan mengapa tak ada seorangpun yang mau membantu menguraikan jawaban?
Bodoh! Aku masih saja bertanya-tanya tentang itu semua. Padahal beberapa waktu yang lalu aku sudah memutuskan dalam hati untuk tidak lagi mempertanyakan itu semua. Aku merasa apa yang sekarang ini terjadi adalah sebagian dari takdir yang harus kupenuhi. Dan aku juga merasa itu adalah karma yang dibebankan kepadaku dari perbuatan orang-orang yang, sekali lagi, menghadirkan aku ke dunia ini. Ke dunia yang kosong. Dunia yang kering. Dan perasaan yang hampa.
Dulu, sering aku berjalan tak tentu arah dengan membawa harapan aku akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Beragam pertanyaan. Pertanyaan yang paling utama adalah siapa yang menciptakan aku. Sebab, aku tidak pernah benar-benar mengenal, apa yang dinamakan oleh orang-orang lain, orang tua.
Dalam satu kesempatan, aku pernah bertemu dengan seorang guru dan bertanya padanya.
“Siapa yang menciptakan aku?”.
“Tuhan”.
“Dan siapa Tuhan itu?”.
“Ia adalah sang pencipta alam dan seluruh isinya”.
“Lalu, siapa yang menciptakan Tuhan?”.
“Tuhan tidak diciptakan oleh siapapun, oleh apapun. Tuhan adalah sang pencipta itu sendiri”.
Aku tidak puas dengan jawaban itu. Aku pergi ke masjid, gereja, pura dan semua tempat yang –kata orang- digunakan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemudian aku bertanya lagi kepada banyak orang. Bertanya kepada ustadz, kepada pastor, kepada biksu, dan orang-orang pintar lainnya. Tapi semuanya memberikan jawaban yang hampir mirip, kalau tidak boleh dikatakan sama persis. Tetap saja tak beroleh jawaban yang memuaskanku.
Jawaban yang sungguh tidak masuk akal buatku. Bagaimana bisa Ia tidak ada yang menciptakan? Apakah Ia tercipta dengan tiba-tiba? Bum!!, maka terciptalah Ia. Begitu saja? Sangat tidak masuk akal!
Ah, kok jadi melantur. Hari ini aku akan kedatangan tamu. Tamu yang istimewa. Yang sudah lama berjanji akan menemuiku. Malaikat maut, yang akan datang mengambil nyawaku. Meski aku belum sempat memperoleh jawaban atas semua pertanyaan yang ada di kepalaku.
Aku tahu aku akan mati hari ini. Jadi segala sesuatu harus kupersiapkan dengan baik untuk menyambut hari istimewa ini.
Aku segera pergi ke swalayan, belanja beberapa keperluan untuk menjamu tamuku nanti. Sesampai di sana, aku mengambil daging, telur, sosis, sandwich, pasta, spaghetti, susu, ice cream, beberapa macam buah dan sayur, juga kopi dan rokok. Oh ya, hampir saja ada yang ketinggalan, bir, tentu saja. Aku ingin menjamu tamuku dengan memberikan semua yang terbaik yang masih bisa kuberikan.
“Sepi sendiri dalam keheningan, dunia menakutkan.
Ingin berontak, jiwaku terkoyak.
Oh..Aku..Ma..ti!!!.” 2)
Semua sudah siap. Meja sudah dirapikan. Semua hidangan sudah disajikan. Tigapuluh menit dari waktu yang dijanjikan. Aku menunggu. Dalam diam. Udara membisu. Waktu membeku.
Kenapa aku berdebar-debar? Apakah aku takut bertemu dengannya? Tidak! Aku tidak takut. Aku hanya tidak tahu dan tidak bisa menebak, dalam bentuk apa ia akan datang padaku. Apakah seperti cerita yang sering kudengar waktu kecil dulu, ia datang dengan alat pemukul di tangan dan muka yang seram menakutkan? Atau ia datang tak berbentuk? Entah. Aku masih menunggu. Dan waktu masih membeku.
Ada ketukan kecil di pintu. Ah, ini pasti ia. Benar, ia datang. Tapi aku terkejut. Ia datang dalam bentuk yang sama sekali tidak ada di dalam bayanganku. Sama sekali berbeda! Ia datang dalam bentuk seorang lelaki muda yang tampan dan, hm, tiba-tiba membuat gairahku menyeruak. Ia tersenyum. Lalu kupersilakan duduk.
“Ada satu pertanyaan yang ingin kuajukan padamu?”.
“Silakan”.
“Siapa Tuhan itu? Dan siapa yang menciptakan Ia?”.
Ia hanya terdiam. Tidak menjawab. Lalu tersenyum.
“Sebentar lagi kau akan bertemu denganNya!”.
Hanya itu yang ia katakan. Ia tersenyum lagi. Membuatku salah tingkah. Kami lalu menikmati hidangan yang telah kupersiapkan. Selesai makan, kunyalakan CD player. Beethoven. Kami lalu berdansa.
“Sebelum kau meninggalkan dunia ini, apa permintaan terakhirmu?”, tanyanya padaku.
“Aku ingin merasakan orgasme. Sebab, dari semua lelaki yang pernah bercinta denganku, tak ada satupun yang bisa memuaskan aku. Mereka semua hanya mencari apa yang mereka perlukan saja, tanpa pernah berpikir untuk memberikan apa yang aku butuhkan. Boleh?”.
Kami lalu bercinta. Berulang kali. Bercinta dengannya membuatku merasakan sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku sangat menikmatinya. Sangat menikmatinya. Aku menyesal tidak pernah bisa merasakannya sebelum ini. Sangat!!!
Aku masih terbaring di ranjang. Lalu aku melihat tubuhku melayang ke udara. Bukan! Tapi, sebenarnya aku melayang meninggalkan tubuhku yang masih tergeletak di ranjang, dengan senyum diwajahku. Aku melihat tubuhku sendiri tergolek tak berdaya. Tak bernyawa. Ya, karena aku telah pergi dengannya. Dengan malaikat maut yang tadi menjemputku. Dan aku yakin, aku akan bercinta lagi dengannya. Nanti. Setelah aku menyelesaikan semua urusanku dengan entah, Tuhan, katanya!
Aku tahu aku akan mati hari ini. Tapi tidak secepat ini. Aku masih ingin bercinta lagi. Aku masih ingin orgasme lagi.[]
“This is the end, Beautiful friend.
This is the end, My only friend, the end.” 3)
rembang 13o4o6 o1:35.57 pm
“who’s god?”
1) Lirik lagu “Awake Ghost Song” dari album “An American Prayer” The Doors.
2) Lirik lagu “Teriak” dari album “Garasi” Garasi Band.
3) Lirik lagu “The End” dari album “The Doors” The Doors.



s/i/a/p/a/b/i/l/a/n/g