aku gila, katanya!
Perempuan berusia belasan. Sekitar 18 tahun-an. Berambut panjang, hitam dan lurus. Cantik. Kulit putih. Bersih. Perut sedikit membuncit. Hamil. Membuat simpul ikatan tali di palang pintu kamarnya. Meletakkan sebuah kursi di bawah simpul tali itu. Perempuan itu naik ke atas kursi dan memasukkan kepalanya ke simpul tali, sebatas leher. Lalu … .
Aku terbangun. Bermimpikah aku? Tapi, semua ini seperti nyata. Terasa nyata. Atau memang nyata? Lalu siapakah perempuan itu? Pertanyaan-pertanyaan itu berkeliaran di kepalaku. Berlarian di otakku. Aku segera bangkit dari ranjang. Berjalan menuju jendela yang terletak di sebelah timur (Atau arah yang lain, aku tak tahu. Tapi aku meyakininya sebagai arah sebelah timur!). Melihat keluar dari balik kaca. Ada titik-titik air di dedaunan, di rerumputan, di tanah. Bukan embun. Karena embun tidak akan sebanyak itu. Semalam hujan, tampaknya.
Bel berbunyi 3 kali. Pintu dibuka dari luar. Pintu kamar ini memang selalu terkunci! Seorang perempuan berpakaian serba putih di depan pintu. Seorang perawat masuk dan segera membawaku pergi. Aku harus mandi. Lebih tepatnya dimandikan. Karena aku dianggap tidak mampu membersihkan diriku sendiri. Ritual yang rutin. Monoton. Sebenarnya, aku cukup waras untuk melakukannya, hanya aku sering merasa malas.
Bersama beberapa perempuan yang sudah lebih dulu ada di ruangan ini, aku dimandikan. Telanjang. Bugil. Disiram air. Dikeramasin. Disabunin. Aku paling menikmati saat-saat ini. Saat dimana seluruh bagian tubuhku dielus dan diraba oleh tangan perawat-perawat itu. Lalu payudaraku akan mengeras. Putingnya menegak. Ah,… .
Selesai mandi dan sarapan aku lalu diberi kebebasan untuk melakukan apa saja yang aku inginkan. Biasanya aku akan menghabiskan waktu dengan berada di taman yang terletak di samping kanan bangunan utama kompleks ini. Melihat kupu-kupu menari di atas kelopak mawar. Melihat lebah menghisap madu di bunga anggrek. Melihat polah orang-orang yang kebetulan juga berada di taman ini. Atau hanya duduk diam –bengong- saja sendirian. Melamun. Bersetubuh dengan kesendirian. Nyepi.
Setelah ditemukan hampir mati menggantung diri di kamar, aku jadi sering melamun dan mengurung diri dalam kamar. Atau dikurung? Entah. Sementara itu, perutku semakin membuncit.
Orang-orang itu tidak tahu siapa yang menghamiliku, aku yakin aku tahu. Tapi mereka tidak pernah percaya waktu kubilang yang menghamili aku adalah bapakku sendiri. “Tidak mungkin!”, kata mereka.
Apa karena bapakku adalah seseorang yang disegani di daerah ini, seorang ustadz, seorang guru ngaji, lalu tidak mungkin melakukan itu? Orang-orang bodoh! Bukannya bapakku juga seorang manusia biasa? Seperti laki-laki yang lain. Bapakku adalah seorang laki-laki yang mempunyai nafsu dan birahi. Karena kalau tidak, bagaimana aku bisa ada di dunia ini?
Jika ada yang bilang aku dilahirkan karena cinta kedua orang tuaku, aku akan membantahnya. Dari semua perlakuan bapakku kepada ibuku, aku semakin yakin bahwa kelahiranku di dunia ini hanya karena syahwat bapakku semata. Nyatanya, bapak tak pernah mau merawatku dan selalu membebankan semua urusan tentangku kepada ibu, sampai ibu meninggal. Bapak bahkan hampir tidak pernah bertegur sapa dengan ibu, kecuali, jika bapak memerlukan ibu untuk menuntaskan syahwatnya. Itu saja!
Melihat tampilanku yang selalu kusut, awut-awutan, suka bicara sendiri, bahkan menangis dan tertawa tanpa ada sebabnya (katanya!), mereka menjadi semakin yakin kalau aku sudah tidak waras lagi. Gila!! Karena itu mereka mendesak bapakku untuk membawaku ke Rumah Sakit Jiwa. Dasar orang-orang gila!
Aku tak peduli apa kata mereka. Toh, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku sendiri. Mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Aku merasa baik-baik saja. Cuma kadang aku merasa heran dengan tingkah dan polah orang-orang disekitarku. Itu saja! Dan mungkin itu yang membuatku sering terlihat tertawa atau menangis sendiri.
Bel berbunyi 3 kali, lagi. Ah, waktunya kembali lagi ke kamar. Kamar no. 6. Entah sudah berapa lama aku tinggal disini. Menjadi penghuni kamar ini. Tapi aku senang berada disini. Merasa nyaman disini. Aku menikmatinya. Dan aku tak ingin pergi dari sini. Setiap kali ada evaluasi, aku selalu berusaha untuk memberikan jawaban yang salah, jawaban yang ngawur. Aku tak ingin dianggap cukup sehat dan waras, lalu dipulangkan. Aku ingin tetap berada disini.
Aku pikir, mereka semua sudah terlanjur menganggap aku gila. Jadi kenapa tidak sekalian saja aku “menjadi” gila beneran?. Jika nanti aku dipulangkan dari sini, apa ada jaminan bahwa persepsi mereka tentang aku akan bisa berubah? Tidak ada! Aku tak ingin pulang. Aku merasa nyaman disini. Aku ingin tinggal lebih lama disini. Menjadi gila, bagiku, bukanlah suatu hal yang sulit dan menyakitkan. Aku sudah pernah merasakan apa yang lebih sakit dari ini, dianggap gila ketika sebenarnya aku dalam keadaan yang benar-benar waras dan normal!
Aku melihat perempuan itu lagi. Perutnya masih rata. Belum membuncit. Berambut panjang, hitam dan lurus. Cantik. Kulit putih. Bersih. Di kamar. Sendirian. Sepi. Seorang laki-laki paruh baya masuk. Sedikit percakapan. Lalu laki-laki itu menyeret perempuan itu ke ranjang. Perempuan itu sedikit meronta. Memberontak. Menolak. Disertai sedikit ancaman, perempuan itu diam. Pasrah. Ketika laki-laki itu menindih tubuhnya. Merenggut keperawanannya. Dan itu bukan yang terakhir!
Perempuan itu hanya bisa diam seribu bahasa. Tanpa sepatah kata. Perempuan itu teringat kata-kata terakhir ibunya sebelum meninggal karena leukemia, ia harus menggantikan tugas ibunya untuk menjaga dan mengurus bapaknya. Kemudian perempuan itu berpikir, apakah menjaga dan mengurus bapaknya itu juga termasuk harus melayani kebutuhan seksual bapaknya? Perempuan itu tidak tahu jawabnya.
Perempuan itu menangis. Lalu, aku melihat diriku menangis. Perempuan itu adalah diriku? Entah.[]
sulang-rembang. 11 april 2oo6. o8:28.oo+1o:35.oo wib.
[theSECONDme!]



Ceritanya keren boz, menyayat hati…
thanks bos
salam kenal