inilah rumah kami
inilah tempat tinggal kami. sebuah rumah yang berupa bangunan yang terdiri dari beberapa kardus bekas. tak ada yang baru disini, semua bekas. karena kami memang tidak bisa mendapatkan yang baru. di sudut, ada sofa yang tinggal rangka kayunya saja. vas bunga yang retak tanpa bunga, sebuah radio transistor yang ketika dinyalakan akan mengeluarkan suara serak seperti batuk berdahak bapakku yang akut. tetapi bapak masih sering menghisap rokok sampai sekarang. hanya aku dan bapak disini. ya, hanya kami saja. tidak ada ibu. kata bapak, ibu meninggal tertabrak sebuah mobil ketika sedang mengantarkan baju cucian milik orang kaya di kampung sebelah. ya, ibuku memang seorang buruh mencuci dan menyetrika. karena hanya itu yang ibu bisa kerjakan. tapi, ibu sangat menyayangiku. dan aku juga sangat menyayanginya. ah, jadi ingat ibu. di dekat radio transistor itu ada sebuah pesawat telepon. kata bapak, nanti suatu saat telepon itu akan digunakan untuk menelepon tuhan. aku pernah bertanya padanya, kenapa tidak menelepon sekarang saja, tapi apa jawab bapak? bapak bilang, bapak belum tahu bahasa apa yang nanti akan dipakai untuk bicara dengan tuhan!
[5:40.35 am.21.o2.o7.rbg]



s/i/a/p/a/b/i/l/a/n/g