pahlawan?

Pahlawan bisa berarti seseorang yang meninggal pada waktu berjuang, entah itu berjuang untuk kemerdekaan negaranya, untuk kepentingan keluarganya atau untuk kepentingan golongannya. Bisa juga berarti seseorang yang banyak berjasa untuk negaranya, golongannya, lingkungannya atau keluarga. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Subyektif, memang, tidak ada kriteria yang benar-benar diamini oleh semua pihak yang berkepentingan dalam hal ini. Pada umumnya, yang berhak mendapat gelar/ sebutan sebagai pahlawan bahkan tidak pernah mengemis/ meminta-minta untuk disebut atau diberi gelar sebagai pahlawan.

Hari-hari ini, setelah wafatnya mantan presiden ke 2 Soeharto, dan belum genap 7 hari, orang-orang sudah ramai memperdebatkan perlu-tidaknya Soeharto diberi gelar pahlawan. Keluarga Soeharto sendiri, melalui juru bicaranya, mengatakan tidak akan meminta-minta kepada Pemerintah untuk diberi gelar pahlawan.

Bagi orang-orang yang diuntungkan oleh kebijakan pada waktu Soeharto berkuasa, pasti berkeinginan agar gelar sebagai pahlawan diberikan, mengingat selain terlibat dalam perang kemerdekaan, juga dirasakan Soeharto memberi sumbangsih yang cukup besar pada negara ini, terutama pada waktu periode sebelum krisis moneter melanda negara ini. Meski harus diakui pula, bahwa tidak sedikit pengorbanan yang harus diterima untuk itu.

Sedang bagi pihak-pihak yang menjadi korban kebijakan pada waktu itu (atau tidak diuntungkan), mereka pasti menuntut untuk tidak diberikannya gelar tersebut. Karena, menurut mereka, Soeharto lebih pantas disebut sebagai diktator, koruptor, dan lain sebagainya.

Kenapa hal yang ‘cuma masalah gelar’ saja menjadi polemik? Karena, menurut saya, negara ini sudah terbiasa ‘hanya’ menghargai sebuah simbol atau tanda-tanda. Lihat saja, ada berapa banyak tugu, monumen untuk memperingati sesuatu. Atau, pelaksanaan upacara, yang hampir tiap bulan pasti ada untuk peringatan peristiwa tertentu. Atau, nama-nama jalan, yang kebanyakan menggunakan nama-nama pahlawan, baik lokal maupun nasional, dengan tujuan yang seragam, untuk menghormati pengorbanan para pahlawan(katanya!).

Tapi, yang jadi pertanyaan sekarang adalah, apa esensi dari semua itu? Yang ada sekarang adalah, simbol tetap simbol, tugu tetap tugu, monumen tetap monumen, upacara tetap upacara, nama jalan tetap nama jalan. Sedangkan perjuangan? Masih saja jalan ditempat! Untuk tidak mengatakannya sebagai ‘mandheg!’ atau berhenti.

Pahlawan hanya menjadi hantu penghuni lembar-lembar buku pelajaran sekolah, tugu dan monumen yang disambangi hanya pada saat tertentu. Dan akhirnya, selamat jalan perjuangan, selamat tinggal perjuangan. Masih perlukah, memperdebatkan lagi ‘soal’ gelar pahlawan?

ditulis pertama kali : 1 Februari 2008/ 22 Muharram 1429 H 14.33 wib
diedit terakhir : 10 Oktober 2008 05:03


Leave a Comment