televisi memberitakan basi,
dan banci
cerita usang dari masa perang,
kopi tertuang
gambargambar berkelebat
mengiklankan lukisan dada,
dan paha
orangorang telanjang
sementara anakanak kecil berebut susu
birokrat-aparat sikutmenyikut
sesaat,
kita disadarkan dari impian cepat saji
dari restoranrestoran sinetron dan film
ternyata apa yang kita bayangkan,
tak selamanya ada di kenyataan
jadi jangan gagap,
jika ada yang menarik tangan,
lalu menengadahkan tangan meminta uang
setelah mengkilapkan sepatu tanpa seijin kita
juga jangan terlalu kaget,
jika ada yang mengabarkan:
“cinta telah mati, pagi ini!”
apakah akan kuberitahukan kepadamu
kepada siapa setan-setan itu turun?
mereka turun kepada tiap-tiap pendusta
lagi pendosa
mereka hadapkan pendengaran
(kepada setan-setan itu)
dan kebanyakan mereka adalah pendusta
dan para penyair itu
diikuti orang-orang sesat
tidakkah kamu lihat
mereka mengembara di lembah-lembah
dan suka mengatakan
apa yang mereka sendiri tak kerjakan
kecuali penyair yang beriman
dan beramal saleh
yang banyak menyebut nama Allah
(Para penyair : 221-227)
momen-momen diabadikan dalam lembaran kodak atau fuji, dalam pigura emas berkaca. orang-orang dan hidupnya menjadi deretan angka yang dengan seketika berubah menjadi “apabila” dan “maka”. lalu, apakah kita hanya sekedar statistik belaka? warga negara hanyalah sebuah data yang tercetak dalam tabel berisi angka dan prosentase, dalam lembaran folio yang keluar dari mesin pengganda xerox atau canon. warga negara hanyalah sebuah asumsi ekonomi. lalu, orang-orang pintar itu sibuk berorasi, berkata membela kepentingan rakyat[nya]. rakyat, siapa? tentu, bukan kita. karena kita hanyalah deretan angka dan data bagi mereka. bukan fakta!
insomiainitelahmembunuhku-membakarhabisgairahkuakanmu
manusiamanusiadenganstereotipeyangsemu
hilirmudikditengahabsurditaskota
mengejarmengaismeraihapapun
kesenanganhedoniskehidupanmaterialistis
cintaku
sejatiku
bukan untukmu
hanya untuknya
hawa,
ibu dari anakanakku
yang tak pernah
keluhkan harga susu
yang tak pernah bertanya:
“apa aku pantas untukmu?”
satu-satu kenangan
lalu mulai dilupakan
serupa dengan
lembar kalender yang ditanggalkan
dengan paksa
semua tercerabut dari akarnya
meninggalkan sejuta asa
dan juga peristiwa
aku, engkau, kita
terurai tak tentu rimba
dalam diam dan gerak
dalam riuh dan sunyi
diantara gerimis dan angin
seseorang terus mencari
untuk perempuan yang berulang tahun hari ini :
bukan aku sengaja melupakannya
bukan pula aku berpura tak mengingatnya
jika aku tak memberimu setangkai bunga
juga tak ada kue dengan lilin nyala diatasnya
kau tahu, disini
aku sedang meratapi datang hari
yang menandai semakin sedikit waktu
yang tersisa buatku untuk ada bersamamu
kubawakan senja kepadamu :
kubawakan senja kepadamu
sebagai persembahan untukmu
sebenarnya tak ingin aku memujamu
hanya, aku ingin menyenangkan hatimu
terimalah
dan berbahagialah
pekuburan :
tak ada sahabat
tak ada kerabat
hanya nisan-nisan bisu
dan kamboja ungu
tak ada kencan
tak ada teman
hanya cacing-cacing lapar
dan akar menjalar
sendiri terbaring
istirah panjang
dimana lagi kami harus bermain? :
bila sawah telah berganti menjadi mall-mall
bila huma telah berganti menjadi real estate
bila ladang telah berganti menjadi lapangan golf
bila tanah lapang telah berganti menjadi lahan industri
dimana lagi kami harus bermain?
: ataukah kami harus bermain di alam mimpi?
amnesia :
ingatkan selalu aku
untuk tetap mencintai
tiap pagi, siang atau malam
tiap saat tiap waktu
agar aku tak melupakan
lebaran :
nyala lampion
anakanak bermain petak umpet dihalaman
takbir bersahutan
suara petasan
tak ada hujan
secuil bulan
ini malam lebaran
masih perlukah bermaafan?
nanti kembali lakukan kesalahan
biar kusematkan mawar itu dibibirmu :
biar kusematkan mawar itu dibibirmu
lalu kautiuplah sesukamu
biar menyebar wanginya
janganlah kau takut
sebab tak akan pernah habis wangi dari mawar itu
sebarkan, sebarkan
biar semua ikut merasakan
wangi
tahun baru :
tanggal
teronggok ditempat sampah
berganti
menempel didinding
bergambar langit hitam
rindu :
bapak tua menahan kantuk
kepulan asap mengusir nyamuk
udara berbau busuk
kota ini membuat rinduku amuk
sesekali :
akan kuajak kau keluar
biar tak selalu ada didalam ini kamar
berdua nikmati indah bunga
dan sejuk embun pagi
dan agar tak pucat kulitmu
terkena matahari,
sesekali




